Pages

Selasa, 01 April 2014

Surat Untuk Mantan

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Dear, Diegas....

Masih teringat jelas dalam ingatan awal perjumpaanku denganmu, kala itu. Ya, sudah Sepuluh Tahun yang lalu. Aku bahkan terlalu kecil untuk mengenal apa itu cinta, yang aku tahu hanya bagaimana senyumku yang tak pernah lepas sedikit pun kala mengingatmu, jantung yang berdegup kencang kala aku dengan tak sengaja tertangkap basah ketika menatapmu, itu sungguh sangat memalukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku merasakan getaran aneh dalam dada, aku sempat berpikir jika aku terkena serangan jantung dini. Hahaa...itu konyol sekaliiii, hingga aku sadar jika aku telah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Kepadamu, kakak kelasku yang terkenal karena badungnya. Justru itu yang membuatku terpikat.

Aku menulis surat ini karena aku rasa begitu banyak hal yang belum sempat aku sampaikan padamu secara langsung, mungkin sudah sangat terlambat, bahkan mungkin juga tak berarti lagi untukmu. Tapi setidaknya, ijinkan aku untuk mengungkapkan segalanya disini. Aku hanya butuh diberi kesempatan, jadi ku mohon ijinkan aku.

Katakanlah aku munafik! Karena selama Tiga Tahun masa SMP, ku gunakan hanya untuk memandangimu dari kejauhan, melihatmu bermesraan dengan kekasih-kekasihmu yang entah berapa banyak sudah yang kau kencani. Hingga pada akhirnya entah apa yang membuatmu tiba-tiba lancang bertanya padaku, apakah aku memiliki perasaan yang 'lebih' padamu? Dan aku dengan tegas berkata TIDAK. Apakah aku Bodoh? Iya, tentu saja. Harusnya aku bahagia dan langsung berkata IYA saat itu karena akhirnya aku memiliki kesempatan untuk mengakui perasaanku. Tapi lihat saja tingkah Bodohku, bersikap seolah aku tak pernah memiliki rasa barang sedikitpun padamu. Ketika aku bertanya "kenapa sih, kak..tiba-tiba nanya gitu? Kayak tau aja aku suka sama kak Ega". Dan dia dengan santainya jawab "Kak Ega nggak tau adek itu punya rasa apa engga sama kak Ega, tapi kak Ega ngerasain aja adek itu sayang sama kak Ega. Biarin deh dibilang GR, yang jelas sayangnya adek itu berasa." Sejak saat itu, tanpa aku pernah mempertegas dan meng-IYA-kan perasaanku, kau selalu anggap aku sebagai kekasihmu. Entah aku harus bahagia atau tidak, aku sangat bahagia karena ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, aku bahagia karena penantianku selama ini nggak sia-sia, tapi aku juga sedih..karena aku tak bisa mencintaimu lagi dalam diam.

Sungguh, aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dicintai olehmu, itu bagaikan mimpi yang bahkan sama sekali tak pernah ku pikirkan untuk bisa menjadi nyata. Kau selalu tahu bagaimana cara menyenangkan hati seorang gadis keras kepala sepertiku, kau selalu tahu bagaimana membahagiakanku, dan hingga kini hanya kau yang tahu bagaimana caranya membuatku begitu nyaman ketika bersamamu. Apakah kau tahu, kau selalu jadi yang pertama untukku? Kau cinta pertamaku, kau kekasih pertamaku, kau juga orang pertama yang berani bertemu dengan orang tuaku meskipun saat itu aku dilarang keras pacaran karena masih terlalu kecil. Dan percayalah, kau juga orang pertama yang mendaratkan bibirmu pada bibirku. Kau ciuman pertamaku, yang meski ku rasakan setelah bertahun-tahun kita tak bertemu. Aku sangat shock ketika setelah sekian lama tak mendengar kabarmu sejak kau lulus SMK, kau datang kembali dengan kabar jika kau akan segera menikah. Ya, MENIKAH. Kau tahu reaksiku saat itu? Aku hanya bisa terkekeh sambil menahan air mata yang dengan tak sabarnya ingin segera mengalir dengan begitu derasnya. Pertahananku goyah, akhirnya tangisku pecah. Selama kau pergi, bukan berarti aku tak merangkai cerita cinta dengan yang lain, hanya saja aku masih selalu terbayang olehmu. Bagiku, hanya kau yang bisa membahagiakanku, titik. Namun satu hal yang selalu aku yakini, dengan siapapun kau berhubungan, pada akhirnya kau akan kembali juga padaku. Dan itu selalu terbukti, belum genap setahun kau menikah, apa yang terjadi? Kau bercerai. Bukannya aku senang akhirnya kau menjadi duda, tapi saat itu aku yakin kau akan kembali lagi padaku.

Tuhan, betapa bodohnya aku yang tak pernah bisa lepas dari orang seperti Egas ini. Aku hanya tak pernah sanggup melawan perasaanku, walaupun aku selalu berkata TIDAK dengan tegas didepanmu, hatiku selalu menjerit berkata IYA. Aku tak pernah bisa menolak hadirmu, walaupun aku tahu kau sudah beristri. Beberapa waktu yang lalu, dengan statusmu yang menikah lagi dan mempunyai seorang putra, kau masih saja selalu menghubungiku, mengucapkan kata sayang untukku, mengungkapkan betapa menyesalnya kau dulu telah meninggalkan dan menyiakan aku, berkata jika memang hanya aku (yang sejak pertama kau kenal) tak pernah berhenti mencintaimu dengan tulus (atau bodoh?), tak pernah sedikitpun berpaling darimu hingga kau yang memutuskan untuk meninggalkan aku bahkan selingkuh dengan sahabatku sendiri. Oh, sudahlah....

Kak Ega, jika aku boleh jujur. Sampai detik ini pun, perasaanku tak pernah berubah. Masih sama seperti dulu, sejak pertama kali kau melihatku dengan tampang polos anak yang baru lulus SD. Aku selalu menyayangimu, tapi biarlah aku berdamai dengan kenyataan jika aku tak akan pernah bisa bersamamu sampai kapanpun. Aku tahu, kau juga begitu masih sangat menyayangiku. Tapi bisakah kau tak egois sekali ini saja? Aku hanya tak ingin menyakiti wanita yang kini bersamamu, aku tak ingin menghancurkan masa depan jagoan kecilmu, meskipun aku tak memungkiri jika aku pernah ingin hidup selamanya bersamamu. Sungguh sulit bagi kita melewati ini semua, aku bukan kamu yang selalu percaya jika semua akan baik-baik saja. Cukup saja pernah ada aku dan kamu yang menjadi "kita"...aku sungguh sungguh sungguh bahagia pernah dicintaimu. Tidakkah kau bosan mendengarnya? Aku hanya tak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Terima Kasih, untuk cintamu yang tak pernah habis untukku. Terima kasih pernah menjadi bagian dari hidupku. Sepuluh Tahun bukan waktu yang sebentar, bukan..untukku mencoba berdamai dengan diri sendiri? Semoga kau selalu bahagia, ingatlah aku sebagai adik kecil kesayanganmu.

Salam dariku,

Mantan Terindahmu (?)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar