Pages

Selasa, 24 Desember 2013

Ayah - Part 2

Being a Father....a Good Father


a Good Father

Ayah....


Aku tak hentinya ingin mengatakan bagaimana kagumku padamu, Ayah. Setelah yang aku saksikan dan ikut lewati bersamamu selama ini. U’re a Good Father in the World, U’re My real Hero, My Life, My Soul, I proud of you, Dad….so much. Bahkan ketika saat itu kau menyampaikan kabar yang menurutku kurang baik, namun aku tak begitu memperdulikannya karena memang aku tak mau tahu tentangnya lagi. Kau mengatakan jika IBU, memilih untuk meninggalkanmu dan memulai hidup baru dengan lelaki lain.
Bagiamana perasaanmu, Ayah? Perlukah aku menanyakannya?

Pertanyaan yang menurutku sendiri sangat tidak penting, karena tanpa kau bicara punbaku sudah tahu apa yang kau rasakan, Ayah. Lantas mengapa kau mengatakannya dengan tawamu? Mengapa kau tak tunjukkan saja sakitmu itu? Aku tahu kau sakit, Ayah. Dan aku lebih sakit melihat kepura-puraanmu itu. Sampai kau harus seperti ini? Aku benci melihatmu terus-menerus bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

 


Jujur…
Aku sudah tak peduli dengan segala hal yang berhubungan dengan beliau, IBU. Jahat kah aku sebagai seorang anak? Merasakan kekecewaan pada seorang wanita yang telah mengandungku dalam rahimnya selama Sembilan bulan, merawatku sejak aku baru bisa menghirup segarnya udara dunia, mendidikku menjadi anak yang baik, mencurahkan segala kasih sayangnya padaku yang entah harus ku jabarkan bagaimana lagi pengorbanan yang beliau berikan padaku, dulu…..jauh sebelum dia bertemu dengan lelaki bangsat yang telah membuatnya berpaling dari Ayah, dari kami anak-anaknya. Pembenaran apa yang bisa aku lakukan jika ini tentang penghianatan? Tak ada satu pun yang bia aku lakukan, karena ini memang salah. Mengapa semua begitu cepat? Mengapa harus seperti ini? Oh God, pertanyaan konyol macam apa yang selalu ku tanyakan padaMu? Kadang aku merasa Tuhan tak adil, disaat aku melihat keluarga yang lengkap, teman yang begitu dekat dengan Ibunya, Ibu yang sangat menyayanginya, Ibu yang selalu menjadi tempat curahan hatinya, tempatnya bersandar jika ia merasa lemah dan terjatuh, Ibu yang seolah menjadi sosok yang paling berharaga dam hidupnya. Lantas apa yang terjadi dengan Ibuku? Aku benar-benar merasa Tuhan tak adil. Protes apa yang bisa aku ajukan padaMu? Mengapa kau renggut kebahagiaan kami?

Secara materi, aku memang tak pernah merasa bahagia sejak dahulu. Karena keluargaku memang bukan dari keluarga yang berada, penting kah semua itu? Toh aku tak pernah sedikit pun kekurangan kasih saying, Ayah. Ibu, sangat menyayangiku lebih dari apapun, sekali lagi itu dahulu. Hanya kasih sayang darimu, Ayah yang tak pernah ku rasakan perubahannya sedikit pun, sedangkan Ibu? Ahh sudahlah, jangan tanyakan hal ini padaku.

Kutuklah aku jika kalian menganggap aku sangat membenci Ibuku sendiri, hakimilah aku jika rasa hormat ku sudah taka ada lagi untuk beliau. Sungguh, kalian hanya tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya berada disisiku, harus memikul semua beban ini bahkan sejak aku belum meraskan yang namanya menstruasi. Oke, itu berlebihan. Tapi semua benar terjadi, beberapa kali ketika aku terbangun dan berharap semua ini hanya mimpi namun semua itu hanya tinggal harapan. Ini terlalu nyata, mimpi buruk yang selalu menghantuiku sejak lama, ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya berlari ditengah derasnya hujan hingga tangisku bisa teredam disana. Tapi itu semua tak akan pernah mengembalikan apa yang ku punya dulu, tak akan. Aku hanya butuh waktu lebih untuk bisa berdamai dengan kenyataan, dengan hatiku sendiri dan dengan Ibuku.

Minggu, 22 Desember 2013

Ayah - part 1


25 September 2013
 
 My Father is a Real My Hero

Bagaimana bisa, dua hati yang terluka saling menguatkan satu dengan yang lain? Mungkin tak hanya dua hati, banyak. Lebih banyak dari yang kau bayangkan..namun yang begitu merasakan secara jelas semua ini hanya dua itu saja. Ya, hanya dua.

Menyembunyikan kesakitan, kehancuran, keterpurukan akan kenyataan yang begitu pahit. Yang bahkan aku sendiri tak pernah sedikitpun terpikirkan sebelumnya akan terjadi hal seperti ini, dengan cara menertawakan satu sama lain. Oh God, i can't believe it. 

Hey...
Apa yang kau sembunyikan? Apa yang aku sembunyikan?

Kita tidak bisa menyembunyikan sakit ini terus menerus. Bagaimanapun kau tersenyum padaku disaat seperti ini, Ayah. Aku tahu kau begitu terluka, aku pun juga. Tapi kita bisa apa? Kita sama-sama terjebak dalam rasa yang berkepanjangan ini, yap! Hanya rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kita pendam, begitu kuat, begitu rapat, tak tersentuh. Karena memang tak ada seorang pun yang bisa merasakan apa yang kita rasakan, Ayah.

Ayah…
Aku tahu, sangat tahu dan mengerti apa yang kau rasakan selama ini. Bisakah kita melupakan hal ini sejenak? Aku ingin melihat kau tersenyum, Ayah. Senyum ketulusan dan kebahagiaan yang selama ini entah hilang kemana, direnggut oleh suatu hal yang sebenarnya tak begitu penting untukku namun mungkin tidak untukmu. Ibu…

Walapun aku tak bisa lari dari kenyataan bahwa jika tak ada beliau, aku takkan lahir ke dunia ini. Tapi aku sangat membencimu, Ayah. Aku benci ketika kau terus berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan hatimu, dengan semua yang telah kau…bukan…maksudku KITA lewati selama ini. Mungkin kau memang satu-satunya orang yang paling sabar yang pernah aku kenal sepanjang hidupku di dunia ini, karena tak sedikitpun, sejak dahulu, sejak aku kecil hingga sekarang dan mungkin untuk waktu yang lama. Sikap sabar itu tak pernah luput sedikitpun dari penglihatanku. Entah kata-kata apalagi yang bisa aku ucapkan demi kekagumanku pada dirimu, Ayah. Begitu bangganya KAMI, anak-anakmu memiliki sosok seorang Ayah yang begitu tangguh, begitu kuat, dan begitu sabar menghadapi kami  yang terkadang tak bisa diingatkan hanya dengan kata-kata. Dan kau selalu punya caramu sendiri untuk menyampaikan apapun pesan dan maksud baikmu itu pada kami. Tanpa bermaksud menyakiti, menggurui, tidak….maksudku, bukankah memang kau guru kami di rumah? Mungkin itu salah satu peranmu, terlepas dari segala kewajibanmu untuk menghidupi dan melengkapi segala kebutuhan kami yang tentunya tak pernah sedikit jumlahnya. Sesibuk apapun, kau tak pernah lupa memperhatikan sekecil apapun tentang kami. Terlepas dari sejak beliau meninggalkanmu, meninggalkan kita, kau menggantikan semua perannya dengan baik. Dan aku khususnya, tak pernah merasakan sedikitpun kurangnya kasih saying darimu, Ayah.

Kadang aku berpikir, betapa bodohnya Ibu meninggalkan pria sebaik dirimu. Bukan berarti aku mengatakan jika ibu tak pintar, hanya saja aku tahu apa yang terjadi antara kau dengan Ibu, Ayah. Aku tak pernah menyesali keputusanmu untuk melepaskannya, karena aku turut andil dengan semua keputusan yang kau buat. Dan aku bahagia :)