Pages

Senin, 29 September 2014

We're Done (?)

Hai, kamu......iya kamuuu.......
Waaaahh, nggak kerasa ya pas 1 bulan kita nggak ada komunikasi sama sekali :) Sepertinya usahaku berhasil, membiasakan diri tanpa kamu. Hehee
Bolehkah kali ini aku berbicara serius? Sepertinya sudah lama sekali kita tak pernah membicarakan hal yang serius, dan lagipula untuk apa?
Baiklah, ketika kau membaca tulisan ini, maka saat itulah aku sudah memutuskan untuk tak lagi menjadi bagian dari cerita cintamu, bagian dari hidupmu, mungkin...atau kau tak pernah menganggapnya demikian? Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu.

Setidaknya selama ini, ketika kita masih bersama, aku kau anggap ada. Kenapa aku mengatakan 'masih' ? Karena setelah tulisan ini kau baca, ku pastikan kita memang sudah tak bersama lagi :) bukan tak bersama lagi sebagai sepasang kekasih, melainkan mantan kekasih.

Do you remember?
Terlalu egois memang. Tapi sungguh, banyak hal yang tak kau mengerti. Mungkin tak pernah terlintas dalam benakmu sedikit pun untuk memikirkan hal ini. Misalnya gini, apa kau pernah memikirkan bagaimana rasanya jika kau yang ada diposisi aku sekarang?
Maksudnya, ketika aku hanya ber-status mantan kekasihmu dan kau menjalin hubungan dengan wanita lain. Pernah kah kau memikirkan hal itu? Aku rasa tidak.
Pernahkah kau berpikir, bagaimana perasaan kekasihmu ketika ia tahu kalau kita masih berhubungan kelewat baik dan dekat seperti ini? Hm? Pernah?

Aku memang sudah terbiasa, sangat terbiasa malah selama ini menjadi teman bermainmu, teman bicaramu, berbagi banyak cerita tentang apapun itu mulai dari hal yang sangat tidak penting sampai hal yang memang sangat penting, mengenai jodoh misalnya? Hahaa, aku rasa itu adalah pembicaraan paling konyol yang pernah kita lakukan.

Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku sudah tak ingin berteman denganmu, bukan berarti aku ingin memutuskan tali silaturahmi kita, bukan berarti aku sudah tak ingin berbagi cerita, mendengarkan ceritamu yang tak jarang tentang kekasihmu itu, dan aku yang selalu banyak bercerita tentang apapun padamu, aku akan merasa kehilangan sekali. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu, sungguh. Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku cemburu dengan kekasihmu, bukan itu. Aku hanya merasa tak nyaman saja jika terus-menerus seperti ini. Pada awalnya aku merasa biasa saja, karena kita bukannya kenal kemarin sore, kita kenal hampir Sepuluh Tahun lamanya. Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan hal seberat ini? Tapi aku harus.
Aku tak ingin terus-menerus merasa bersalah karena berpikir jika bagaimana nanti aku malah menghancurkan hubungan kalian, yang walaupun aku tahu mungkin itu tak akan pernah  terjadi? Bisa saja sekarang aku yakin mengatakan tak mungkin, siapa yang tahu nantinya? Aku hanya tak ingin ada yang terluka, bukan dia, bukan juga aku.

Banyak hal yang ingin aku sampaikan melalui tulisan ini. Seperti, salah satu alasan aku memutuskan untuk tak menjadi teman baikmu lagi adalah aku tak ingin terjebak dengan perasaanku sendiri. Bisa saja sekarang aku mengatakan jika aku tak memiliki perasaan layaknya seorang wanita kepada pria pada umumnya, karena aku sudah terlanjur nyaman menjadi teman baikmu selama ini. Tapi siapa yang tahu nanti akhirnya bagaimana? Saking nyamannya aku ketika lagi bersamamu, walaupun itu hanya berbagi cerita melalui telepon, berkirim pesan, maupun saat bertatap muka langsung, aku bahkan lupa bagaimana rasanya mendapatkan kenyamanan ditempat lain. Itu yang aku takutkan :'(

Bagaimana mungkin aku terus-terusan mencari kenyamanan itu pada kekasih orang? Tak punya harga diri kah aku? Mungkin kau perlu tahu, untuk aku pribadi, rasa sayang dan cinta sekali pun akan kalah dengan yang namanya kenyamanan. Nyaman itu tak bisa kau ciptakan, sayang dan cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, tidak dengan kenyamanan itu sendiri.

Hal lain yang aku tak mengerti tentang dirimu, maukah kau memberikanku jawabannya? Aku ingin bertanya, sebenarnya apakah kau yakin dengan kata-katamu sendiri jika kau sangat mencintai kekasihmu itu? Apakah kau yakin dengan kata-katamu jika memang dia yang akan menjadi akhir dari labuhan hatimu? Akhir dari petualangan cintamu? Tolong jawab aku. Karena, jika kau ingin tahu pendapatku tentang hubungan kalian, aku bisa saja merasa jika sebenarnya kau tak se-cinta yang kau katakan, tak se-nyaman seperti yang aku lihat, walaupun tentu saja yang tahu hanya kau dan Tuhan. Yang merasakan juga kau sendiri. Tapi, bukankah itu terlalu jelas terlihat? Aku ingin bertanya, jika memang kau yakin dengan kenyamananmu bersama dia, mengapa kau masih mencari kenyamanan di tempat lain?


Aku selalu ketawa kalo lihat ini😁

Aku bisa merasakan jika kau tak se-bahagia yang kau katakan, sayang...kau tak selepas itu untuk berbagi dengan kekasihmu, kau....tak se-nyaman itu dengan hubungan kalian. Koreksi aku jika aku salah, koreksi aku jika aku terlalu yakin akan kata-kataku, koreksi aku jika aku hanya 'sok tahu' tentang perasaanmu. Sekali lagi, aku hanya merasakannya...
Beberapa waktu belakangan ini aku selalu dibayangi oleh pertanyaan, SALAHKAH AKU?
Apa salah jika kita terlalu dekat? Apa salah jika aku merasa kau masih menyayangiku? Apa salah jika kita masih bertemu dan kadang jalan bareng? Aku bisa terima jika orang menyalahkan aku, tapi aku sendiri tak bisa menyalahkan perasaan.

Seseorang pernah berkata padaku, "akan sangat egois jika aku benar-benar memutuskan tali silaturahmi denganmu. Akan sangat egois jika aku meninggalkanmu. Tak ada yang salah dengan kalian, kau tak pernah tahu alasan apa dia masih saja berteman dekat denganmu. Bisa jadi dia tak menemukan sesuatu yang ada padamu, ada pada kekasihnya. Biarkanlah dia memilih, berikan dia kesempatan, jika sudah tiba saatnya nanti. Kalau pun memang dia hanya menganggapmu teman baik/mantan baik (mungkin) dan dia tetap memilih kekasihnya, biarlah...setidaknya selama ini kau sudah bersikap baik padanya. Selalu menjadi pendengar yang baik, selalu ada untuknya, selalu bisa membuay dia tertawa. Percayalah, dia akan merindukan itu semua." Kira-kira begitu ceramah singkatnya.

Satu hal lagi, tak ada pembenaran jika itu tentang penghianatan. Apapun alasannya.
Juga tak melulu orang ketiga itu lantas menjadi pihak yang selalu disalahkan. Bukan begitu cara mainnya. Dan aku nggak pernah ngerasa jadi orang ketiga :D
Soalnya gini, bagi kebanyakan wanita, mengetahui pacarnya ada sesuatu dengan wanita lain apalagi itu mantannya lantas langsung saja menyalahkan si wanita lain/mantannya itu. Jangan begitu lah, coba tengok dulu pacar kalian, apa motifnya, bagiku sah-sah saja. Selama sang wanita lain itu tak merayu pacarmu. Susah sih ya, cewek kebanyakan drama, cowok kebagian egoisnya. Kalo kalian mau pacar kalian nggak kemana-mana, coba lihat diri sendiri dulu. Kira-kira kenapa dia sampai pindah ke lain hati begitu? Lagian menurutku, kalo masih pacaran gitu cowok berhak untuk memilih yang terbaik menurut dia. Tugas kita sebagai cewek, hanya perlu terus memperbaiki diri jika ingin menjadi cewek idaman dan menjadi pilihan. Beda urusan kalo udah berkeluarga. Cowoknya kemana-mana mah disunat lagi aja.

Balik ke topik. Oh....Sudahlah, toh pada akhirnya aku sudah memutuskan. Maaf jika aku memang egois, maaf sudah menghakimi perasaanmu dengan jalan pikiranku sendiri. Maaf atas segalanya. Berbahagialah selalu, kamu.....aku akan sangat merindukanmu. Tertawakan saja tingkahku ini, aku tahu kau sudah menahannya sejak tadi.








I want to ask you something.
"Do you love me, before?"

Sabtu, 09 Agustus 2014

Nothing is Impossible !

Entah udah malem minggu ke berapa gue lewatin tanpa pasangan. Hiks....*nangisdipojokan*
Saking terbiasanya sendiri, kadang gue lupa ini malem minggu. Kadang gue lupa udah mandi apa belom. Kadang gue lupa nama gue siapa, gue darimana, punya cucu berapa...
Banyak kegelisahan yang sebenernya selalu menuhin pikiran gue. Tentang pemikiran bahwa sebenernya apa tujuan hidup ini, tentang kenapa pilpres tahun ini ngalahin drama korea saking berlebihannya, tentang kenapa Syahrini kepikiran buat tiduran diaspal dan tereak "i feel freeeeee~", dan tentu saja tentang.....Cinta.
Gue rasa lo semua sepakat, ngomongin Cinta emang nggak pernah ada abisnya. Kali ini gue pengen omongin diri sendiri aja lah. Kisah cinta gue lebih seru dari kisah Romeo & Juliet versi Indonesia, kok..jadi lo nggak bakal bosen buat ikutin. #halah

Jadi, udah 2 tahun belakangan ini gue jomb......eee single. Lumayan lama sih, karena sebelumnya gue belom pernah ngerasain 'sendiri' dalam jangka waktu yang lama. Dan ini lumayan lama, rrrrr sangat lama (menurut gue) padahal gue tau, ada temen gue yang jomblonya jauh lebih lama dari gue. Bukan tanpa alasan kenapa akhirnya gue memutuskan untuk sendiri dulu, gue udah pertimbangin ini mateng2. Mungkin awalnya alesan gue jomblo ya sama kayak orang kebanyakan, susah move on. Tapi buat gue, ini jauh lebih dari sekedar move on. Buat gue, sendiri dalam jangka waktu 2 tahun ini adalah suatu pembelajaran yang tiada terhingga nilainya. Mantan terakhir gue bener-bener ngasi pelajaran hidup yang sangat berharga, secara tidak langsung. Dengan sendirinya akhirnya gue belajar, bahwa dalam sebuah hubungan, saling menghargai itu adalah salah satu hal yang sangat penting. Itu yang nggak bisa gue lakuin buat dia, gue terlalu egois...oke, nggak perlu dilanjutin.
Intinya dalam 2 tahun ini gue terus coba dan coba biar jadi lebih baik lagi, gue memperbaiki diri, karena katanyaaaa semakin kita memperbaiki diri, maka jodoh yang akan didatangkan Allah untuk kita akan semakin baik. Insya Allah...

Yang gue rasain, kenapa gue jomblo ini salah satunya karena gue ngerasa kurang percaya diri. Gue juga nggak tau kenapa, ketika temen-temen gue berusaha ngenalin cowok ke gue, gue udah minder duluan. Gue, dibilang jelek juga kagak..ya lumayan lah. Dibilang bodoh juga enggak, gue nggak sebodoh itu, kok :D
Tapi entah kenapa gue minder doang kerjaannya. Ngeselin banget kan? Emang.
Lagian gini, sekarang ini gue udah nggak minat banget buat pacaran atau apalah itu segala macam bentuk hubungan yang sama pelaku hubungan itu sendiri malah nggak tau apa tujuan dari sebuah hubungan yang dibentuk. Gue pengennya, kalo emang niat serius dan ngerasa udah mampu untuk berkeluarga, kenapa nggak langsung ta'aruf aja? Susah emang, ngomong mah gampang. Tapi kenapa nggak dicoba buat jalanin aja ??? Kita nggak pernah tau kalo kita belum coba. Iya, kan?
Nggak ada yang nggak mungkin sih, yang nggak mungkin itu adalah ketidakmungkinan itu sendiri. Begitulah seseorang pernah berkata...

Rabu, 09 Juli 2014

I am 22 Years Old

12 Juni 1992 - 12 Juni 2014

 
Alhamdulillah....

Aku nggak nyangka umurku bisa sampai 22 tahun, iya Dua Puluh Dua Tahun !! *biardramatis*
Udah 22 tahun juga aku dikasi kesempatan bernafas oleh Tuhan, aku diberikan kesempatan untuk merasakan bagaimana indahnya dunia. Yang padahal menurut aku pribadi, dunia ini kejam, kawan. Sangat kejam malah, setidaknya menurutku. Sudah banyak hal yang aku lalui dan lakukan selama hidup ini, tapi kok ya aku ngerasa belum begitu banyak kebaikan yang ditanamkan. Mungkin karena aku ngerasa masih muda (?). Entahlah, yang dipikiranku cuma maen dan maen. Aku tahu, nggak selamanya aku terus-terusan seperti ini yan lebih banyak maennya ketimbang beramalnya. Aku ngerasa udah dewasa, dan aku harus membenahi hidupku agar lebih baik lagi. Agar lebih banyak melakukan hal yang bermanfaat daripada yang tidak bermanfaat sama sekali (contohnya gosip sama temen-temen rempong). Dan itu yang sedang aku coba lakukan sekarang.

Dua Puluh Dua Tahun sudah, aku belom pernah ngerasain yang namanya merayakan hari ulang tahun. Aku nggak pernah yang namanya dikasi kue tart. FYI aja, baru diumur 22 ini aku ngerasain yang namanya tiup lilin. Aku menyedihkan? Iya. Aku emang nggak pernah merayakan ulang tahun sekali pun, karena aku bukan termasuk orang 'berada'. Jangankan beli kue, beli beras buat makan aja susah. Tapi itu semua nggak mengurangi rasa bahagiaku, karena selalu setiap aku ulang tahun, orang-orang yang sayang sama aku nggak pernah lupa hari bersejarah itu, begitu saja sudah cukup.


Ini kue pertama aku







Aku mau ngucapin makasih dulu buat temen-temen seperjuangan, ada Kak Uly, Jojo, Ade. Makasih buat surprisenya, kalian terbaik.

Dari bulan lalu aku udah niat banget pengen ngadain syukuran kalo aku bisa menginjak usia 22 ini. Aku sangat ingin berbagi sama adek-adek di Panti Asuhan. Sebelumnya mohon maaf, aku nulis cerita ini nggak ada maksud apa-apa, nggak bermaksud riya' juga. Aku hanya ingin berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, dan aku akan lebih bersyukur lagi kalo ada yang melakukan hal serupa seperti ini :)

Pada kesempatan lain, aku udah pernah mengunjungi mereka bareng anak-anak komunitas VGBFriends_SBY dan jelas, aku pengen ketemu mereka lagi. Jadi hari itu, Minggu 15 Juni 2014 aku berkunjung ke Panti Asuhan Roudhotul Jannah Surabaya. Sungguh, aku sangat rindu mereka. Aku rindu suasana di Panti ini. Dengan dibantu sahabat-sahabat terbaik, aku sukses ngadain syukuran disini. Sekali lagi, terima kasih untuk kalian yang sudah berkenan meluangkan waktu untuk acara ini : Kak Uly, Ari, Eka, Ramadi, Bambang, Dita, Excel, makasih banyak. Aku sangat bahagia, belum pernah se-bahagia ini.

Sebenernya bukan itu sih fokus aku nulis cerita ini, aku ingin berbicara lebih jauh lagi tentang mereka. Tentang adik-adik yang ada di Panti ini. Dengan melihat mereka saja, kita sudah bisa belajar banyak hal. Aku sekarang lebih tahu bagaimana caranya menghargai uang, bagaimana caranya bersyukur, bagaimana menghargai waktu bersama keluarga. Aku malu. Terkadang aku menghabiskan banyak uang untuk hal-hal yang nggak begitu penting sedangkan disana masih banyak anak-anak seperti mereka yang susah makan. Aku, buat menghubungi Ayah saja, atau keluarga dirumah kadang males loh sedangkan mereka aja nggak tahu mau menghubungi siapa. Aku masih punya keluarga yang utuh sedangkan mereka enggak. Tapi apa? entah mengapa mereka terlihat lebih bahagia, jauh lebih bahagia daripada aku sendiri. Aku tahu mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi, tapi kenapa mereka bisa setenang itu? Kenapa mereka bisa menunjukkan senyum semanis itu? Seolah-olah nggak ada sedikitpun beban yang mereka rasakan. Aku peluk mereka, disitu aku ngerasain satu hal yang ingin mereka sampaikan tapi nggak bisa. Kerinduan, cukup dengan pelukan saja aku sudah tahu jika mereka merindukan sebuah pelukan dari seseorang yang sangat mereka cintai, pelukan hangat dari orang tua. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, tapi aku malu. Mereka saja tersenyum manis, masa iya aku yang nangis?



Senyum-senyum indah :)

Kalian bisa lihat senyum mereka? Aku tak ingin senyum ini hilang sedikit pun dari wajah mereka, sungguh tak ingin. Sekarang aku sadar, ternyata bahagiaku tak hanya jalan-jalan dengan kawan, nonton, belanja, menghabiskan banyak waktu dan uang untuk hal yang tak begitu penting seperti itu. Bahagiaku, cukup hanya dengan berbagi dengan adik-adik ini. Melihat mereka tersenyum, dan merasa sangat disayangi oleh mereka. Kalian tahu, do'a anak yatim itu sangat mulia, bahkan setara dengan do'a orang tua kita. Aku sangat bersyukur berada ditengah-tengah mereka, tanpa aku minta pun...mereka memberikan begitu banyak do'a dengan sangat tulus dihari bahagiaku. Mereka bahkan tak ingin aku pergi dari sana, mereka ingin aku tinggal bersama mereka, ah...kalian sangat manis, sungguh :)

Jujur, aku sangat ingin terus bisa bersama kalian. Menemani, mendengarkan cerita kalian, berbagi ilmu tentang apapun, aku sangat ingin. Seperti janjiku, mungkin tak selalu dan setiap saat aku bisa bersama kalian, tapi aku pasti, PASTI akan menyempatkan waktu mengunjungi kalian jika ada kesempatan. Pelukan kalian membuatku ingin tetap tinggal.


Ada yang ngelamun, tuh....


Kira-kira itu beberapa foto kebersamaan kami. Memang nggak begitu banyak yang bisa aku kasiin ke mereka, tapi setidaknya aku membuat mereka tersenyum bahagia, Insya Allah...semoga berkah. Aamiin!


Foto terakhir sebelum pulang....

Jadi gini, banyak hal di dunia ini yang sebenarnya walaupun hal kecil sekalipun padahal sangat penting namun sering kita acuhkan begitu saja. Contoh kecil, menghubungi orang tua bagi anak rantau seperti aku dan teman-teman di Surabaya ini. Tak sedikit dari kami, lebih memilih untuk rutin menghubungi kekasih hati ketimbang sekedar memberi kabar kepada orang tua padahal kita tahu bagaimana khawatirnya orang tua dirumah dengan keadaan kita walaupun mereka percaya kita bisa menjaga diri sebaik mungkin. Luangkanlah waktu sedikit apapun itu untuk sekedar memberi kabar ke orang tua selagi mereka masih ada. Kirim SMS, mungkin? nggak susah kan?

Melihat adik-adik yang tidak memiliki orang tua seperti ini sungguh membuat hati tersayat. Aku lebay? biarkan. Aku hanya tidak mengerti, kenapa sanak saudara mereka tak merawatnya saja? Kenapa harus dibiarkan di Panti Asuhan? Memberi makan anak yatim itu nggak akan bikin kalian bangkrut, kok. Jadi apa yang membuat kalian tega meninggalkan mereka disana???? Ah...sudahlah. Kadang aku tak mengerti apa yang mereka inginkan dan pikirkan. Mari, kita sama-sama, jika mempunyai rejeki lebih berbagilah kepada mereka yang membutuhkan. Sekecil apapun itu, percayalah...mereka akan sangat senang dan rejeki kita akan semakin berkah. Aamiin ya Rabbal'alamiin


NB : Semoga tulisan ini bermanfaat dan tidak menganggap ini adalah riya' yaaa ^^

Selasa, 01 April 2014

Surat Untuk Mantan

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara

Dear, Diegas....

Masih teringat jelas dalam ingatan awal perjumpaanku denganmu, kala itu. Ya, sudah Sepuluh Tahun yang lalu. Aku bahkan terlalu kecil untuk mengenal apa itu cinta, yang aku tahu hanya bagaimana senyumku yang tak pernah lepas sedikit pun kala mengingatmu, jantung yang berdegup kencang kala aku dengan tak sengaja tertangkap basah ketika menatapmu, itu sungguh sangat memalukan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku merasakan getaran aneh dalam dada, aku sempat berpikir jika aku terkena serangan jantung dini. Hahaa...itu konyol sekaliiii, hingga aku sadar jika aku telah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Kepadamu, kakak kelasku yang terkenal karena badungnya. Justru itu yang membuatku terpikat.

Aku menulis surat ini karena aku rasa begitu banyak hal yang belum sempat aku sampaikan padamu secara langsung, mungkin sudah sangat terlambat, bahkan mungkin juga tak berarti lagi untukmu. Tapi setidaknya, ijinkan aku untuk mengungkapkan segalanya disini. Aku hanya butuh diberi kesempatan, jadi ku mohon ijinkan aku.

Katakanlah aku munafik! Karena selama Tiga Tahun masa SMP, ku gunakan hanya untuk memandangimu dari kejauhan, melihatmu bermesraan dengan kekasih-kekasihmu yang entah berapa banyak sudah yang kau kencani. Hingga pada akhirnya entah apa yang membuatmu tiba-tiba lancang bertanya padaku, apakah aku memiliki perasaan yang 'lebih' padamu? Dan aku dengan tegas berkata TIDAK. Apakah aku Bodoh? Iya, tentu saja. Harusnya aku bahagia dan langsung berkata IYA saat itu karena akhirnya aku memiliki kesempatan untuk mengakui perasaanku. Tapi lihat saja tingkah Bodohku, bersikap seolah aku tak pernah memiliki rasa barang sedikitpun padamu. Ketika aku bertanya "kenapa sih, kak..tiba-tiba nanya gitu? Kayak tau aja aku suka sama kak Ega". Dan dia dengan santainya jawab "Kak Ega nggak tau adek itu punya rasa apa engga sama kak Ega, tapi kak Ega ngerasain aja adek itu sayang sama kak Ega. Biarin deh dibilang GR, yang jelas sayangnya adek itu berasa." Sejak saat itu, tanpa aku pernah mempertegas dan meng-IYA-kan perasaanku, kau selalu anggap aku sebagai kekasihmu. Entah aku harus bahagia atau tidak, aku sangat bahagia karena ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan, aku bahagia karena penantianku selama ini nggak sia-sia, tapi aku juga sedih..karena aku tak bisa mencintaimu lagi dalam diam.

Sungguh, aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Dicintai olehmu, itu bagaikan mimpi yang bahkan sama sekali tak pernah ku pikirkan untuk bisa menjadi nyata. Kau selalu tahu bagaimana cara menyenangkan hati seorang gadis keras kepala sepertiku, kau selalu tahu bagaimana membahagiakanku, dan hingga kini hanya kau yang tahu bagaimana caranya membuatku begitu nyaman ketika bersamamu. Apakah kau tahu, kau selalu jadi yang pertama untukku? Kau cinta pertamaku, kau kekasih pertamaku, kau juga orang pertama yang berani bertemu dengan orang tuaku meskipun saat itu aku dilarang keras pacaran karena masih terlalu kecil. Dan percayalah, kau juga orang pertama yang mendaratkan bibirmu pada bibirku. Kau ciuman pertamaku, yang meski ku rasakan setelah bertahun-tahun kita tak bertemu. Aku sangat shock ketika setelah sekian lama tak mendengar kabarmu sejak kau lulus SMK, kau datang kembali dengan kabar jika kau akan segera menikah. Ya, MENIKAH. Kau tahu reaksiku saat itu? Aku hanya bisa terkekeh sambil menahan air mata yang dengan tak sabarnya ingin segera mengalir dengan begitu derasnya. Pertahananku goyah, akhirnya tangisku pecah. Selama kau pergi, bukan berarti aku tak merangkai cerita cinta dengan yang lain, hanya saja aku masih selalu terbayang olehmu. Bagiku, hanya kau yang bisa membahagiakanku, titik. Namun satu hal yang selalu aku yakini, dengan siapapun kau berhubungan, pada akhirnya kau akan kembali juga padaku. Dan itu selalu terbukti, belum genap setahun kau menikah, apa yang terjadi? Kau bercerai. Bukannya aku senang akhirnya kau menjadi duda, tapi saat itu aku yakin kau akan kembali lagi padaku.

Tuhan, betapa bodohnya aku yang tak pernah bisa lepas dari orang seperti Egas ini. Aku hanya tak pernah sanggup melawan perasaanku, walaupun aku selalu berkata TIDAK dengan tegas didepanmu, hatiku selalu menjerit berkata IYA. Aku tak pernah bisa menolak hadirmu, walaupun aku tahu kau sudah beristri. Beberapa waktu yang lalu, dengan statusmu yang menikah lagi dan mempunyai seorang putra, kau masih saja selalu menghubungiku, mengucapkan kata sayang untukku, mengungkapkan betapa menyesalnya kau dulu telah meninggalkan dan menyiakan aku, berkata jika memang hanya aku (yang sejak pertama kau kenal) tak pernah berhenti mencintaimu dengan tulus (atau bodoh?), tak pernah sedikitpun berpaling darimu hingga kau yang memutuskan untuk meninggalkan aku bahkan selingkuh dengan sahabatku sendiri. Oh, sudahlah....

Kak Ega, jika aku boleh jujur. Sampai detik ini pun, perasaanku tak pernah berubah. Masih sama seperti dulu, sejak pertama kali kau melihatku dengan tampang polos anak yang baru lulus SD. Aku selalu menyayangimu, tapi biarlah aku berdamai dengan kenyataan jika aku tak akan pernah bisa bersamamu sampai kapanpun. Aku tahu, kau juga begitu masih sangat menyayangiku. Tapi bisakah kau tak egois sekali ini saja? Aku hanya tak ingin menyakiti wanita yang kini bersamamu, aku tak ingin menghancurkan masa depan jagoan kecilmu, meskipun aku tak memungkiri jika aku pernah ingin hidup selamanya bersamamu. Sungguh sulit bagi kita melewati ini semua, aku bukan kamu yang selalu percaya jika semua akan baik-baik saja. Cukup saja pernah ada aku dan kamu yang menjadi "kita"...aku sungguh sungguh sungguh bahagia pernah dicintaimu. Tidakkah kau bosan mendengarnya? Aku hanya tak tahu bagaimana mengungkapkannya.
Terima Kasih, untuk cintamu yang tak pernah habis untukku. Terima kasih pernah menjadi bagian dari hidupku. Sepuluh Tahun bukan waktu yang sebentar, bukan..untukku mencoba berdamai dengan diri sendiri? Semoga kau selalu bahagia, ingatlah aku sebagai adik kecil kesayanganmu.

Salam dariku,

Mantan Terindahmu (?)

Selasa, 24 Desember 2013

Ayah - Part 2

Being a Father....a Good Father


a Good Father

Ayah....


Aku tak hentinya ingin mengatakan bagaimana kagumku padamu, Ayah. Setelah yang aku saksikan dan ikut lewati bersamamu selama ini. U’re a Good Father in the World, U’re My real Hero, My Life, My Soul, I proud of you, Dad….so much. Bahkan ketika saat itu kau menyampaikan kabar yang menurutku kurang baik, namun aku tak begitu memperdulikannya karena memang aku tak mau tahu tentangnya lagi. Kau mengatakan jika IBU, memilih untuk meninggalkanmu dan memulai hidup baru dengan lelaki lain.
Bagiamana perasaanmu, Ayah? Perlukah aku menanyakannya?

Pertanyaan yang menurutku sendiri sangat tidak penting, karena tanpa kau bicara punbaku sudah tahu apa yang kau rasakan, Ayah. Lantas mengapa kau mengatakannya dengan tawamu? Mengapa kau tak tunjukkan saja sakitmu itu? Aku tahu kau sakit, Ayah. Dan aku lebih sakit melihat kepura-puraanmu itu. Sampai kau harus seperti ini? Aku benci melihatmu terus-menerus bersikap seolah semuanya baik-baik saja.

 


Jujur…
Aku sudah tak peduli dengan segala hal yang berhubungan dengan beliau, IBU. Jahat kah aku sebagai seorang anak? Merasakan kekecewaan pada seorang wanita yang telah mengandungku dalam rahimnya selama Sembilan bulan, merawatku sejak aku baru bisa menghirup segarnya udara dunia, mendidikku menjadi anak yang baik, mencurahkan segala kasih sayangnya padaku yang entah harus ku jabarkan bagaimana lagi pengorbanan yang beliau berikan padaku, dulu…..jauh sebelum dia bertemu dengan lelaki bangsat yang telah membuatnya berpaling dari Ayah, dari kami anak-anaknya. Pembenaran apa yang bisa aku lakukan jika ini tentang penghianatan? Tak ada satu pun yang bia aku lakukan, karena ini memang salah. Mengapa semua begitu cepat? Mengapa harus seperti ini? Oh God, pertanyaan konyol macam apa yang selalu ku tanyakan padaMu? Kadang aku merasa Tuhan tak adil, disaat aku melihat keluarga yang lengkap, teman yang begitu dekat dengan Ibunya, Ibu yang sangat menyayanginya, Ibu yang selalu menjadi tempat curahan hatinya, tempatnya bersandar jika ia merasa lemah dan terjatuh, Ibu yang seolah menjadi sosok yang paling berharaga dam hidupnya. Lantas apa yang terjadi dengan Ibuku? Aku benar-benar merasa Tuhan tak adil. Protes apa yang bisa aku ajukan padaMu? Mengapa kau renggut kebahagiaan kami?

Secara materi, aku memang tak pernah merasa bahagia sejak dahulu. Karena keluargaku memang bukan dari keluarga yang berada, penting kah semua itu? Toh aku tak pernah sedikit pun kekurangan kasih saying, Ayah. Ibu, sangat menyayangiku lebih dari apapun, sekali lagi itu dahulu. Hanya kasih sayang darimu, Ayah yang tak pernah ku rasakan perubahannya sedikit pun, sedangkan Ibu? Ahh sudahlah, jangan tanyakan hal ini padaku.

Kutuklah aku jika kalian menganggap aku sangat membenci Ibuku sendiri, hakimilah aku jika rasa hormat ku sudah taka ada lagi untuk beliau. Sungguh, kalian hanya tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya berada disisiku, harus memikul semua beban ini bahkan sejak aku belum meraskan yang namanya menstruasi. Oke, itu berlebihan. Tapi semua benar terjadi, beberapa kali ketika aku terbangun dan berharap semua ini hanya mimpi namun semua itu hanya tinggal harapan. Ini terlalu nyata, mimpi buruk yang selalu menghantuiku sejak lama, ingin rasanya aku berteriak sekencang-kencangnya berlari ditengah derasnya hujan hingga tangisku bisa teredam disana. Tapi itu semua tak akan pernah mengembalikan apa yang ku punya dulu, tak akan. Aku hanya butuh waktu lebih untuk bisa berdamai dengan kenyataan, dengan hatiku sendiri dan dengan Ibuku.

Minggu, 22 Desember 2013

Ayah - part 1


25 September 2013
 
 My Father is a Real My Hero

Bagaimana bisa, dua hati yang terluka saling menguatkan satu dengan yang lain? Mungkin tak hanya dua hati, banyak. Lebih banyak dari yang kau bayangkan..namun yang begitu merasakan secara jelas semua ini hanya dua itu saja. Ya, hanya dua.

Menyembunyikan kesakitan, kehancuran, keterpurukan akan kenyataan yang begitu pahit. Yang bahkan aku sendiri tak pernah sedikitpun terpikirkan sebelumnya akan terjadi hal seperti ini, dengan cara menertawakan satu sama lain. Oh God, i can't believe it. 

Hey...
Apa yang kau sembunyikan? Apa yang aku sembunyikan?

Kita tidak bisa menyembunyikan sakit ini terus menerus. Bagaimanapun kau tersenyum padaku disaat seperti ini, Ayah. Aku tahu kau begitu terluka, aku pun juga. Tapi kita bisa apa? Kita sama-sama terjebak dalam rasa yang berkepanjangan ini, yap! Hanya rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kita pendam, begitu kuat, begitu rapat, tak tersentuh. Karena memang tak ada seorang pun yang bisa merasakan apa yang kita rasakan, Ayah.

Ayah…
Aku tahu, sangat tahu dan mengerti apa yang kau rasakan selama ini. Bisakah kita melupakan hal ini sejenak? Aku ingin melihat kau tersenyum, Ayah. Senyum ketulusan dan kebahagiaan yang selama ini entah hilang kemana, direnggut oleh suatu hal yang sebenarnya tak begitu penting untukku namun mungkin tidak untukmu. Ibu…

Walapun aku tak bisa lari dari kenyataan bahwa jika tak ada beliau, aku takkan lahir ke dunia ini. Tapi aku sangat membencimu, Ayah. Aku benci ketika kau terus berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan hatimu, dengan semua yang telah kau…bukan…maksudku KITA lewati selama ini. Mungkin kau memang satu-satunya orang yang paling sabar yang pernah aku kenal sepanjang hidupku di dunia ini, karena tak sedikitpun, sejak dahulu, sejak aku kecil hingga sekarang dan mungkin untuk waktu yang lama. Sikap sabar itu tak pernah luput sedikitpun dari penglihatanku. Entah kata-kata apalagi yang bisa aku ucapkan demi kekagumanku pada dirimu, Ayah. Begitu bangganya KAMI, anak-anakmu memiliki sosok seorang Ayah yang begitu tangguh, begitu kuat, dan begitu sabar menghadapi kami  yang terkadang tak bisa diingatkan hanya dengan kata-kata. Dan kau selalu punya caramu sendiri untuk menyampaikan apapun pesan dan maksud baikmu itu pada kami. Tanpa bermaksud menyakiti, menggurui, tidak….maksudku, bukankah memang kau guru kami di rumah? Mungkin itu salah satu peranmu, terlepas dari segala kewajibanmu untuk menghidupi dan melengkapi segala kebutuhan kami yang tentunya tak pernah sedikit jumlahnya. Sesibuk apapun, kau tak pernah lupa memperhatikan sekecil apapun tentang kami. Terlepas dari sejak beliau meninggalkanmu, meninggalkan kita, kau menggantikan semua perannya dengan baik. Dan aku khususnya, tak pernah merasakan sedikitpun kurangnya kasih saying darimu, Ayah.

Kadang aku berpikir, betapa bodohnya Ibu meninggalkan pria sebaik dirimu. Bukan berarti aku mengatakan jika ibu tak pintar, hanya saja aku tahu apa yang terjadi antara kau dengan Ibu, Ayah. Aku tak pernah menyesali keputusanmu untuk melepaskannya, karena aku turut andil dengan semua keputusan yang kau buat. Dan aku bahagia :)