Hai, kamu......iya kamuuu.......
Waaaahh, nggak kerasa ya pas 1 bulan kita nggak ada komunikasi sama sekali :) Sepertinya usahaku berhasil, membiasakan diri tanpa kamu. Hehee
Waaaahh, nggak kerasa ya pas 1 bulan kita nggak ada komunikasi sama sekali :) Sepertinya usahaku berhasil, membiasakan diri tanpa kamu. Hehee
Bolehkah kali ini aku berbicara serius? Sepertinya sudah lama sekali kita tak pernah membicarakan hal yang serius, dan lagipula untuk apa?
Baiklah, ketika kau membaca tulisan ini, maka saat itulah aku sudah memutuskan untuk tak lagi menjadi bagian dari cerita cintamu, bagian dari hidupmu, mungkin...atau kau tak pernah menganggapnya demikian? Entahlah, hanya kau dan Tuhan yang tahu.
Setidaknya selama ini, ketika kita masih bersama, aku kau anggap ada. Kenapa aku mengatakan 'masih' ? Karena setelah tulisan ini kau baca, ku pastikan kita memang sudah tak bersama lagi :) bukan tak bersama lagi sebagai sepasang kekasih, melainkan mantan kekasih.
![]() |
| Do you remember? |
Terlalu egois memang. Tapi sungguh, banyak hal yang tak kau mengerti. Mungkin tak pernah terlintas dalam benakmu sedikit pun untuk memikirkan hal ini. Misalnya gini, apa kau pernah memikirkan bagaimana rasanya jika kau yang ada diposisi aku sekarang?
Maksudnya, ketika aku hanya ber-status mantan kekasihmu dan kau menjalin hubungan dengan wanita lain. Pernah kah kau memikirkan hal itu? Aku rasa tidak.
Pernahkah kau berpikir, bagaimana perasaan kekasihmu ketika ia tahu kalau kita masih berhubungan kelewat baik dan dekat seperti ini? Hm? Pernah?
Aku memang sudah terbiasa, sangat terbiasa malah selama ini menjadi teman bermainmu, teman bicaramu, berbagi banyak cerita tentang apapun itu mulai dari hal yang sangat tidak penting sampai hal yang memang sangat penting, mengenai jodoh misalnya? Hahaa, aku rasa itu adalah pembicaraan paling konyol yang pernah kita lakukan.
Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku sudah tak ingin berteman denganmu, bukan berarti aku ingin memutuskan tali silaturahmi kita, bukan berarti aku sudah tak ingin berbagi cerita, mendengarkan ceritamu yang tak jarang tentang kekasihmu itu, dan aku yang selalu banyak bercerita tentang apapun padamu, aku akan merasa kehilangan sekali. Aku selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu, sungguh. Aku berbicara seperti ini bukan berarti aku cemburu dengan kekasihmu, bukan itu. Aku hanya merasa tak nyaman saja jika terus-menerus seperti ini. Pada awalnya aku merasa biasa saja, karena kita bukannya kenal kemarin sore, kita kenal hampir Sepuluh Tahun lamanya. Bagaimana mungkin aku bisa memutuskan hal seberat ini? Tapi aku harus.
Aku tak ingin terus-menerus merasa bersalah karena berpikir jika bagaimana nanti aku malah menghancurkan hubungan kalian, yang walaupun aku tahu mungkin itu tak akan pernah terjadi? Bisa saja sekarang aku yakin mengatakan tak mungkin, siapa yang tahu nantinya? Aku hanya tak ingin ada yang terluka, bukan dia, bukan juga aku.
Banyak hal yang ingin aku sampaikan melalui tulisan ini. Seperti, salah satu alasan aku memutuskan untuk tak menjadi teman baikmu lagi adalah aku tak ingin terjebak dengan perasaanku sendiri. Bisa saja sekarang aku mengatakan jika aku tak memiliki perasaan layaknya seorang wanita kepada pria pada umumnya, karena aku sudah terlanjur nyaman menjadi teman baikmu selama ini. Tapi siapa yang tahu nanti akhirnya bagaimana? Saking nyamannya aku ketika lagi bersamamu, walaupun itu hanya berbagi cerita melalui telepon, berkirim pesan, maupun saat bertatap muka langsung, aku bahkan lupa bagaimana rasanya mendapatkan kenyamanan ditempat lain. Itu yang aku takutkan :'(
Bagaimana mungkin aku terus-terusan mencari kenyamanan itu pada kekasih orang? Tak punya harga diri kah aku? Mungkin kau perlu tahu, untuk aku pribadi, rasa sayang dan cinta sekali pun akan kalah dengan yang namanya kenyamanan. Nyaman itu tak bisa kau ciptakan, sayang dan cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, tidak dengan kenyamanan itu sendiri.
Hal lain yang aku tak mengerti tentang dirimu, maukah kau memberikanku jawabannya? Aku ingin bertanya, sebenarnya apakah kau yakin dengan kata-katamu sendiri jika kau sangat mencintai kekasihmu itu? Apakah kau yakin dengan kata-katamu jika memang dia yang akan menjadi akhir dari labuhan hatimu? Akhir dari petualangan cintamu? Tolong jawab aku. Karena, jika kau ingin tahu pendapatku tentang hubungan kalian, aku bisa saja merasa jika sebenarnya kau tak se-cinta yang kau katakan, tak se-nyaman seperti yang aku lihat, walaupun tentu saja yang tahu hanya kau dan Tuhan. Yang merasakan juga kau sendiri. Tapi, bukankah itu terlalu jelas terlihat? Aku ingin bertanya, jika memang kau yakin dengan kenyamananmu bersama dia, mengapa kau masih mencari kenyamanan di tempat lain?
![]() |
| Aku selalu ketawa kalo lihat ini😁 |
Aku bisa merasakan jika kau tak se-bahagia yang kau katakan, sayang...kau tak selepas itu untuk berbagi dengan kekasihmu, kau....tak se-nyaman itu dengan hubungan kalian. Koreksi aku jika aku salah, koreksi aku jika aku terlalu yakin akan kata-kataku, koreksi aku jika aku hanya 'sok tahu' tentang perasaanmu. Sekali lagi, aku hanya merasakannya...
Beberapa waktu belakangan ini aku selalu dibayangi oleh pertanyaan, SALAHKAH AKU?
Apa salah jika kita terlalu dekat? Apa salah jika aku merasa kau masih menyayangiku? Apa salah jika kita masih bertemu dan kadang jalan bareng? Aku bisa terima jika orang menyalahkan aku, tapi aku sendiri tak bisa menyalahkan perasaan.
Seseorang pernah berkata padaku, "akan sangat egois jika aku benar-benar memutuskan tali silaturahmi denganmu. Akan sangat egois jika aku meninggalkanmu. Tak ada yang salah dengan kalian, kau tak pernah tahu alasan apa dia masih saja berteman dekat denganmu. Bisa jadi dia tak menemukan sesuatu yang ada padamu, ada pada kekasihnya. Biarkanlah dia memilih, berikan dia kesempatan, jika sudah tiba saatnya nanti. Kalau pun memang dia hanya menganggapmu teman baik/mantan baik (mungkin) dan dia tetap memilih kekasihnya, biarlah...setidaknya selama ini kau sudah bersikap baik padanya. Selalu menjadi pendengar yang baik, selalu ada untuknya, selalu bisa membuay dia tertawa. Percayalah, dia akan merindukan itu semua." Kira-kira begitu ceramah singkatnya.
Satu hal lagi, tak ada pembenaran jika itu tentang penghianatan. Apapun alasannya.
Juga tak melulu orang ketiga itu lantas menjadi pihak yang selalu disalahkan. Bukan begitu cara mainnya. Dan aku nggak pernah ngerasa jadi orang ketiga :D
Soalnya gini, bagi kebanyakan wanita, mengetahui pacarnya ada sesuatu dengan wanita lain apalagi itu mantannya lantas langsung saja menyalahkan si wanita lain/mantannya itu. Jangan begitu lah, coba tengok dulu pacar kalian, apa motifnya, bagiku sah-sah saja. Selama sang wanita lain itu tak merayu pacarmu. Susah sih ya, cewek kebanyakan drama, cowok kebagian egoisnya. Kalo kalian mau pacar kalian nggak kemana-mana, coba lihat diri sendiri dulu. Kira-kira kenapa dia sampai pindah ke lain hati begitu? Lagian menurutku, kalo masih pacaran gitu cowok berhak untuk memilih yang terbaik menurut dia. Tugas kita sebagai cewek, hanya perlu terus memperbaiki diri jika ingin menjadi cewek idaman dan menjadi pilihan. Beda urusan kalo udah berkeluarga. Cowoknya kemana-mana mah disunat lagi aja.
Satu hal lagi, tak ada pembenaran jika itu tentang penghianatan. Apapun alasannya.
Juga tak melulu orang ketiga itu lantas menjadi pihak yang selalu disalahkan. Bukan begitu cara mainnya. Dan aku nggak pernah ngerasa jadi orang ketiga :D
Soalnya gini, bagi kebanyakan wanita, mengetahui pacarnya ada sesuatu dengan wanita lain apalagi itu mantannya lantas langsung saja menyalahkan si wanita lain/mantannya itu. Jangan begitu lah, coba tengok dulu pacar kalian, apa motifnya, bagiku sah-sah saja. Selama sang wanita lain itu tak merayu pacarmu. Susah sih ya, cewek kebanyakan drama, cowok kebagian egoisnya. Kalo kalian mau pacar kalian nggak kemana-mana, coba lihat diri sendiri dulu. Kira-kira kenapa dia sampai pindah ke lain hati begitu? Lagian menurutku, kalo masih pacaran gitu cowok berhak untuk memilih yang terbaik menurut dia. Tugas kita sebagai cewek, hanya perlu terus memperbaiki diri jika ingin menjadi cewek idaman dan menjadi pilihan. Beda urusan kalo udah berkeluarga. Cowoknya kemana-mana mah disunat lagi aja.
Balik ke topik. Oh....Sudahlah, toh pada akhirnya aku sudah memutuskan. Maaf jika aku memang egois, maaf sudah menghakimi perasaanmu dengan jalan pikiranku sendiri. Maaf atas segalanya. Berbahagialah selalu, kamu.....aku akan sangat merindukanmu. Tertawakan saja tingkahku ini, aku tahu kau sudah menahannya sejak tadi.
I want to ask you something.
"Do you love me, before?"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar