Pages

Minggu, 22 Desember 2013

Ayah - part 1


25 September 2013
 
 My Father is a Real My Hero

Bagaimana bisa, dua hati yang terluka saling menguatkan satu dengan yang lain? Mungkin tak hanya dua hati, banyak. Lebih banyak dari yang kau bayangkan..namun yang begitu merasakan secara jelas semua ini hanya dua itu saja. Ya, hanya dua.

Menyembunyikan kesakitan, kehancuran, keterpurukan akan kenyataan yang begitu pahit. Yang bahkan aku sendiri tak pernah sedikitpun terpikirkan sebelumnya akan terjadi hal seperti ini, dengan cara menertawakan satu sama lain. Oh God, i can't believe it. 

Hey...
Apa yang kau sembunyikan? Apa yang aku sembunyikan?

Kita tidak bisa menyembunyikan sakit ini terus menerus. Bagaimanapun kau tersenyum padaku disaat seperti ini, Ayah. Aku tahu kau begitu terluka, aku pun juga. Tapi kita bisa apa? Kita sama-sama terjebak dalam rasa yang berkepanjangan ini, yap! Hanya rasa sakit dan kekecewaan yang selama ini kita pendam, begitu kuat, begitu rapat, tak tersentuh. Karena memang tak ada seorang pun yang bisa merasakan apa yang kita rasakan, Ayah.

Ayah…
Aku tahu, sangat tahu dan mengerti apa yang kau rasakan selama ini. Bisakah kita melupakan hal ini sejenak? Aku ingin melihat kau tersenyum, Ayah. Senyum ketulusan dan kebahagiaan yang selama ini entah hilang kemana, direnggut oleh suatu hal yang sebenarnya tak begitu penting untukku namun mungkin tidak untukmu. Ibu…

Walapun aku tak bisa lari dari kenyataan bahwa jika tak ada beliau, aku takkan lahir ke dunia ini. Tapi aku sangat membencimu, Ayah. Aku benci ketika kau terus berpura-pura tak terjadi apa-apa dengan hatimu, dengan semua yang telah kau…bukan…maksudku KITA lewati selama ini. Mungkin kau memang satu-satunya orang yang paling sabar yang pernah aku kenal sepanjang hidupku di dunia ini, karena tak sedikitpun, sejak dahulu, sejak aku kecil hingga sekarang dan mungkin untuk waktu yang lama. Sikap sabar itu tak pernah luput sedikitpun dari penglihatanku. Entah kata-kata apalagi yang bisa aku ucapkan demi kekagumanku pada dirimu, Ayah. Begitu bangganya KAMI, anak-anakmu memiliki sosok seorang Ayah yang begitu tangguh, begitu kuat, dan begitu sabar menghadapi kami  yang terkadang tak bisa diingatkan hanya dengan kata-kata. Dan kau selalu punya caramu sendiri untuk menyampaikan apapun pesan dan maksud baikmu itu pada kami. Tanpa bermaksud menyakiti, menggurui, tidak….maksudku, bukankah memang kau guru kami di rumah? Mungkin itu salah satu peranmu, terlepas dari segala kewajibanmu untuk menghidupi dan melengkapi segala kebutuhan kami yang tentunya tak pernah sedikit jumlahnya. Sesibuk apapun, kau tak pernah lupa memperhatikan sekecil apapun tentang kami. Terlepas dari sejak beliau meninggalkanmu, meninggalkan kita, kau menggantikan semua perannya dengan baik. Dan aku khususnya, tak pernah merasakan sedikitpun kurangnya kasih saying darimu, Ayah.

Kadang aku berpikir, betapa bodohnya Ibu meninggalkan pria sebaik dirimu. Bukan berarti aku mengatakan jika ibu tak pintar, hanya saja aku tahu apa yang terjadi antara kau dengan Ibu, Ayah. Aku tak pernah menyesali keputusanmu untuk melepaskannya, karena aku turut andil dengan semua keputusan yang kau buat. Dan aku bahagia :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar